Aku Kopi dan Twitter

Aku Kopi dan Twitter

Secangkir kopi dan laptop di meja

Entah, aku tak ingat betul kapan aku mulai mengenal sebuah alat baru, asing, yang bernama social media.

Ketika orang-orang mulai membuat Friendster, aku bikin akun itu. Tapi aku tak menemukan keasikan di situ. Hingga kubiarkan saja akun itu berlalu.

Kemudian si Mark Zuckerberg dan Eduardo Saverin mulai membumingkan Facebook. Aku pun turut membuat akun Facebook. Namun lagi-lagi aku tak menemukan keasikan di dalamnya. Tapi aku terus merawat akun ini, siapa tahu suatu saat bermanfaat.

Kemudian saat ada lagi pergeseran dari FB ke Twitter, aku pun mulai membuat akun di Twitter. Sebuah situs micro-blogging yang membatasi penggunanya untuk nulis dalam 140 karakter.

Aku merasa kok "aneh". Mungkin karena aku ngerasa sebagai blogger, dan blogger itu harus nulis. Sementara aku males nulis. Ya, dengan 140 karakter aku mungkin bisa nulis.

Walau pun pada kenyataannya di Twitter pun aku cuman baca Timeline orang.

Friendster
Awal mula mengenal social media. Ikut-ikutan bikin akun, tapi tak menemukan keasikan.
— dibiarkan berlalu.
Facebook
Ikut tren Mark Zuckerberg & Eduardo Saverin. Tetap dirawat, siapa tahu suatu saat bermanfaat.
— tetap saja tak menemukan keasikan.
Twitter
Micro-blogging 140 karakter. Cocok buat yang males nulis panjang. Cukup baca Timeline orang.
— akhirnya nemu teman ngopi.

Tapi aku merasa ada teman ngopi.

Jadi saat aku ngopi, aku ditemenin Twitter.

Brian Kamoed


18 Apr 2012