Brian Kamoed: Tiga Buah Salak dan Pelajaran Berbagi dari Anakku

Tiga Buah Salak dan Pelajaran Berbagi dari Anakku

Pagi di pasar

Hari masih pagi, namun kehidupan di rumahku sudah dimulai dari sebelum subuh.

"Abi datang... Abi datang..."

Teriak El, anakku yang pertama, menyambutku dengan ceria. Oh iya, aku punya 2 anak. Yang pertama namanya Mentariku El Jingga (El), umurnya baru tiga tahun. Dan yang kedua Lembanyungku El Jingga (Ay), yang berumur dua tahun.

Seperti biasa, aku selalu ke pasar setiap pagi. Kebetulan jaraknya tidak begitu jauh dari rumah, mungkin hanya memerlukan waktu 5 menit saja jika ditempuh dengan jalan kaki. Dan memang aku selalu jalan kaki ke pasar — selain jaraknya yang dekat, juga itung-itung olahraga.

Pagi itu aku membeli keperluan untuk usahaku. Yah, aku punya usaha kecil-kecilan, tepatnya usaha istriku. Aku buka counter Bandeng Qu — counter makanan serba bandeng di Food Station Yogya Grand Subang. Dan memang aku kebagian tugas untuk belanja ke pasar, karena untuk memastikan dapat barang dengan kualitas yang bagus.

Dan biasanya di pasar, aku suka membelikan anak-anakku jajanan pasar. Tapi kali ini aku kehabisan jajanan itu — mungkin karena aku berangkatnya agak siang. Jadi aku hanya membelikan 3 buah salak untuk anakku.

Tiga buah salak

Tiga buah salak yang jadi pelajaran berbagi.

"Abi, mana jajanannya?" kata El.
"Yah... jajanannya abis El, tapi gantinya Abi beliin salak," jawabku sambil mengeluarkan bungkusan plastik berwarna putih.

Tanpa ragu aku membuka dan makan satu buah salak yang kubeli itu.

"Tapi, makanya di rumah aja ya! Abi belinya cuman tiga, malu sama tetangga kalo gak ngasih," kataku.
"Kan ini ada dua, yang satu buat El sama ade, dan satu lagi buat De Fat..." katanya sambil menunjukkan buah salak kepadaku.

(De Fat = tetanggaku.)

"Oh malunya aku... Ternyata anakku punya semangat berbagi yang jauh lebih baik dari aku."

Brian Kamoed

29 Jun 2012