Pernah nggak kita merasa sudah tahu banyak hal, tapi anehnya hidup kita kok masih begitu-begitu saja?
Saya sering kepikiran soal ini.
Kita tahu bahwa membaca itu penting. Kita tahu belajar itu penting. Kita tahu menjaga kesehatan itu penting. Kita tahu ibadah harus diperbaiki. Kita tahu waktu jangan dibuang percuma. Kita tahu harus disiplin, harus konsisten, harus berani memulai.
Bahkan kadang kita bisa menjelaskan kepada orang lain dengan sangat baik.
Tapi ketika sampai pada diri sendiri...
“Nanti dulu.”
Dan akhirnya, apa yang kita tahu hanya berhenti sebagai pengetahuan.
Kita Sering Bukan Kekurangan Pengetahuan
Kalau dipikir-pikir, zaman sekarang sebenarnya kita tidak kekurangan informasi.
Mau belajar bisnis? Tinggal buka YouTube.
Mau belajar agama? Banyak kajian tersedia.
Mau belajar desain, marketing, bahasa, teknologi, olahraga, investasi, atau apa pun, semuanya ada.
Informasi begitu mudah didapat.
Masalahnya bukan lagi:
“Saya tidak tahu.”
Tetapi mungkin pertanyaannya sudah berubah menjadi:
“Setelah saya tahu, lalu saya melakukan apa?”
Ini yang menurut saya jauh lebih menarik.
Karena mengetahui sesuatu tidak otomatis membuat kita berubah.
Kita bisa tahu olahraga itu sehat, tetapi tetap malas bergerak.
Kita bisa tahu membaca Al-Qur'an itu penting, tetapi tetap saja mushaf lebih sering tersimpan rapi daripada dibaca.
Kita bisa tahu menunda pekerjaan itu tidak baik, tetapi tetap saja berkata, “Besok saja.”
Kita bisa tahu bahwa sebuah peluang bagus, tetapi kita terlalu lama memikirkannya sampai peluang itu lewat.
Jadi ternyata tahu dan melakukan adalah dua hal yang berbeda.
Jarak antara Tahu dan Melakukan
Ada sebuah jarak yang cukup panjang antara:
“Saya tahu.”
dengan:
“Saya melakukan.”
Dan jarak itu sering kali diisi oleh banyak alasan.
Takut gagal.
Takut salah.
Merasa belum siap.
Menunggu waktu yang tepat.
Menunggu punya modal lebih besar.
Menunggu ilmu lebih banyak.
Menunggu suasana hati bagus.
Menunggu semuanya sempurna.
Padahal kalau kita terus menunggu sempurna, bisa jadi kita tidak pernah benar-benar memulai.
Saya jadi berpikir, mungkin kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak pengetahuan.
Mungkin yang kita butuhkan adalah satu langkah kecil dari pengetahuan yang sudah kita miliki.
Tidak Harus Langsung Besar
Kadang kita membayangkan bahwa “melakukan” harus sesuatu yang besar.
Padahal tidak.
Kalau kita tahu membaca itu penting, mungkin cukup mulai dengan 10 halaman sehari.
Kalau tahu olahraga itu penting, mungkin mulai dengan jalan kaki 15 menit.
Kalau tahu ingin belajar sesuatu, mungkin mulai dengan 20 menit sehari.
Kalau punya ide bisnis, jangan langsung berpikir bagaimana membangun perusahaan besar. Coba cari satu orang yang bisa menjadi pelanggan pertama.
Kalau ingin memperbaiki ibadah, tidak harus langsung merasa menjadi orang yang sempurna. Mulailah dari satu kebiasaan yang bisa kita jaga.
Kecil tidak masalah. Yang penting bergerak.
Karena sering kali perubahan besar sebenarnya dimulai dari tindakan yang sangat sederhana.
Pengetahuan Harus Turun ke Tangan
Saya suka membayangkan pengetahuan itu seperti benih.
Kita bisa mengumpulkan sebanyak-banyaknya benih.
Kita bisa punya satu karung benih.
Bahkan kita bisa tahu jenis tanah yang bagus, tahu cara menanam, tahu kapan harus menyiram, tahu pupuk apa yang digunakan.
Tapi kalau benihnya tidak pernah ditanam, ya tidak akan pernah menjadi tanaman.
Begitu juga dengan ilmu.
Kita bisa mengikuti banyak kajian.
Membaca banyak buku.
Mendengarkan banyak podcast.
Mengikuti berbagai seminar.
Menyimpan banyak catatan.
Tetapi pertanyaannya:
Apa yang berubah dari diri kita setelah semua itu?
Apakah kita menjadi lebih sabar?
Lebih disiplin?
Lebih bermanfaat?
Lebih dekat kepada Allah?
Lebih berani mengambil tanggung jawab?
Lebih baik dalam memperlakukan orang lain?
Kalau iya, berarti ilmu itu sudah mulai bekerja.
Kalau belum... Mungkin ilmunya masih berhenti di kepala.
Dari “Nanti” Menjadi “Sekarang”
Salah satu kata yang menurut saya paling berbahaya adalah:
Nanti.
Nanti saya mulai.
Nanti saya belajar.
Nanti saya berubah.
Nanti saya membaca.
Nanti saya olahraga.
Nanti saya mengerjakan.
Nanti saya berani.
Masalahnya, “nanti” sering sekali tidak punya tanggal.
Dan tanpa sadar, satu tahun berlalu. Dua tahun berlalu. Bahkan mungkin bertahun-tahun berlalu.
Padahal sebenarnya kita sudah tahu apa yang harus dilakukan sejak lama.
Maka mungkin sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
“Apa yang selama ini sudah saya ketahui, tetapi belum saya lakukan?”
Pertanyaan sederhana ini ternyata cukup menampar. Karena mungkin jawabannya banyak.
Tidak Perlu Menunggu Motivasi
Kita juga sering menunggu motivasi.
“Kalau sedang semangat, saya kerjakan.”
Padahal kalau selalu menunggu semangat, kita akan sangat tergantung pada perasaan.
Ada hari kita semangat. Ada hari kita malas.
Ada hari kita produktif. Ada hari kita ingin rebahan saja.
Karena itu, mungkin yang lebih penting bukan motivasi, tetapi komitmen.
Motivasi membuat kita mulai.
Tetapi kebiasaan membuat kita terus berjalan.
Tidak perlu selalu hebat. Tidak perlu selalu bersemangat.
Yang penting tetap melakukan. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari.
Jadi, Bisakah Kita Berubah dari Mengetahui Menjadi Melakukan?
Saya pikir bisa.
Tetapi mungkin kita harus berhenti mengejar terlalu banyak pengetahuan baru dan mulai bertanya:
“Dari semua yang sudah saya tahu, apa satu hal yang akan saya lakukan hari ini?”
Bukan besok. Bukan minggu depan. Hari ini. Satu saja.
Karena mungkin perubahan tidak membutuhkan seribu keputusan.
Mungkin hanya membutuhkan satu keputusan kecil yang benar-benar kita jalankan.
Tahu → pahami → yakini → lakukan → ulangi.
Sampai akhirnya sesuatu yang awalnya terasa berat menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang terus dilakukan akhirnya menjadi bagian dari diri kita.
Pada Akhirnya...
Saya rasa hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ketahui.
Bukan tentang berapa banyak buku yang sudah kita baca.
Bukan tentang berapa banyak seminar yang kita ikuti.
Bukan juga tentang seberapa pintar kita menjelaskan sesuatu kepada orang lain.
Tetapi mungkin tentang:
Seberapa banyak yang kita tahu kemudian benar-benar kita lakukan.
Karena orang yang tahu banyak belum tentu berubah.
Tetapi orang yang mengambil satu ilmu, lalu mengamalkannya, bisa jadi justru jauh lebih dekat kepada perubahan.
Jadi hari ini, mungkin tidak perlu mencari ilmu baru dulu.
Coba lihat kembali apa yang sudah kita tahu. Lalu tanyakan kepada diri sendiri:
“Dari semua yang sudah saya ketahui, apa satu hal yang harus mulai saya lakukan?”
Tidak perlu besar. Tidak perlu sempurna.
Mulai saja.
Karena pada akhirnya, perubahan bukan terjadi ketika kita berkata:
“Saya tahu.”
Perubahan mulai terjadi ketika kita berkata:
“Saya akan melakukannya.”
Brian Kamoed