Ada satu pertanyaan yang belakangan ini mengganggu pikiran saya:
Kalau setiap ajaran agama harus terlebih dahulu sesuai dengan akal dan keinginan manusia, lalu sebenarnya untuk apa Allah menurunkan wahyu?
Kita Hidup di Zaman yang Merasa Pintar
Kita hidup di zaman ketika manusia merasa semakin pintar.
Teknologi semakin canggih.
Informasi ada di ujung jari.
Kita bisa membaca ribuan pendapat hanya dalam hitungan detik.
Dan mungkin tanpa sadar, kita mulai membawa kesombongan zaman ini ke dalam cara kita memahami agama.
Sesuatu kita terima kalau masuk akal.
Sesuatu kita tolak kalau tidak sesuai dengan pemikiran kita.
Sesuatu kita anggap benar kalau sesuai dengan nilai yang sedang populer.
Bahkan ketika berhadapan dengan aturan Allah, terkadang pertanyaan pertama kita bukan lagi:
“Apa yang Allah kehendaki?”
Tetapi:
“Apakah aturan ini masih cocok dengan zaman sekarang?”
Definisi Sejati Seorang Muslim
Nah, di sinilah saya mulai berpikir ulang tentang apa sebenarnya arti menjadi seorang Muslim.
Bukankah Islam berarti berserah diri?
Bukankah seorang Muslim pada dasarnya adalah orang yang tunduk kepada Allah?
Kalau begitu, jangan-jangan selama ini kita sering keliru memahami hubungan antara akal, keinginan manusia, dan wahyu.
Akal kita penting.
Tetapi akal kita bukan Tuhan.
Perasaan kita penting.
Tetapi perasaan kita bukan ukuran mutlak kebenaran.
Zaman berubah.
Tetapi kebenaran tidak otomatis berubah hanya karena zaman berubah.
Dan di sinilah wahyu memiliki posisi yang sangat penting.
Wahyu Sebagai Penuntun Akal
Islam tidak meminta manusia berhenti berpikir. Islam meminta manusia berpikir dalam batas dirinya sebagai manusia.
Kita boleh bertanya.
Boleh berdiskusi.
Boleh mencari hikmah.
Boleh melakukan ijtihad ketika menghadapi persoalan yang memang membutuhkan ijtihad.
Tetapi ketika Allah sudah menetapkan sesuatu dengan jelas, pertanyaannya bukan lagi apakah kita berhak mengubahnya.
Pertanyaannya adalah:
“Bagaimana saya bisa memahami dan menjalankannya?”
Mencari Kebenaran atau Pembenaran?
Bagi saya, ini bukan persoalan kecil.
Ini menyangkut fondasi keislaman kita.
Apakah saya sedang mencari kebenaran?
Atau sebenarnya saya hanya sedang mencari pembenaran atas apa yang sudah saya inginkan?
Karena keduanya terlihat mirip, tetapi sebenarnya sangat berbeda.
Dan mungkin perjalanan menjadi seorang Muslim adalah perjalanan panjang untuk belajar membedakan keduanya.
Bukan memaksa Islam mengikuti kita, tetapi belajar menempatkan diri kita di hadapan Islam.
Brian Kamoed