Laut Bercerita: Ketika Sebuah Bangsa Mulai Kehilangan Ingatannya

Laut Bercerita: Ketika Sebuah Bangsa Mulai Kehilangan Ingatannya

Gambar utama artikel Laut Bercerita

Hari ini saya menonton film Laut Bercerita.

Awalnya saya mengira akan menonton sebuah film tentang sejarah, tentang aktivisme mahasiswa, tentang penculikan, dan tentang peristiwa menjelang Reformasi 1998. Sebuah kisah dari masa lalu yang mungkin sudah sering kita dengar.

Tetapi ternyata, film ini meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar pengetahuan tentang sejarah. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Ada kegelisahan. Ada banyak pertanyaan yang muncul setelah film selesai.

Saya pulang dengan satu pikiran: jangan-jangan, cerita ini bukan hanya tentang masa lalu. Ada banyak hal di dalamnya yang masih terasa dekat dengan kehidupan bangsa kita hari ini.

Mereka Bukan Sekadar Aktivis, Mereka Adalah Manusia

Salah satu hal yang paling terasa dari Laut Bercerita adalah bagaimana film ini memperlihatkan sisi manusia di balik sebuah peristiwa politik.

Biru Laut dan teman-temannya bukan sekadar nama dalam catatan sejarah. Mereka adalah anak muda yang punya keluarga, sahabat, orang tua yang menyayangi, cita-cita, dan masa depan yang ingin dijalani.

Mereka punya kehidupan seperti kita. Ada yang ingin pulang ke rumah, bercanda dengan teman, jatuh cinta, membaca buku, berdiskusi, dan menikmati masa muda.

Tetapi mereka juga punya sesuatu yang diyakini: bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dibiarkan begitu saja ketika ketidakadilan terjadi. Mereka memilih bersuara. Dan pilihan itu membawa konsekuensi yang sangat berat.

Di sinilah saya merasa film ini ingin mengingatkan kita bahwa ketika seseorang kehilangan kebebasannya karena memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar, yang hilang bukan hanya satu orang. Ada keluarga yang kehilangan anaknya, ada orang tua yang kehilangan harapan, ada saudara yang kehilangan kakaknya, dan ada masa depan yang tidak pernah sempat dijalani.

Korban bukan angka. Mereka adalah manusia.

Ada Orang yang Hilang, Ada Keluarga yang Tidak Pernah Selesai Menunggu

Bagian cerita tentang Asmara Jati, adik Biru Laut, menurut saya menjadi salah satu bagian paling menyentuh.

Kehilangan seseorang mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Tetapi kehilangan tanpa kepastian adalah cerita yang berbeda.

Bayangkan jika seseorang yang kita cintai pergi, lalu kita tidak pernah tahu ke mana dia dibawa, bagaimana keadaannya, apakah masih hidup, atau apakah suatu hari akan kembali.

Tidak ada kepastian. Tidak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Bahkan tidak ada tempat yang bisa kita datangi untuk sekadar menabur bunga.

Keluarga yang ditinggalkan harus hidup bersama pertanyaan yang tidak kunjung mendapatkan jawaban.

Dari sini saya menyadari bahwa sebuah tragedi tidak berhenti ketika peristiwanya selesai. Bagi keluarga korban, penderitaan bisa berlangsung bertahun-tahun, bahkan mungkin seumur hidup.

Dan mungkin inilah salah satu pesan kemanusiaan terbesar dari Laut Bercerita: jangan pernah melihat sebuah tragedi hanya dari sudut pandang peristiwa. Lihat juga manusia-manusia yang harus hidup dengan akibatnya.

Yang Lebih Menakutkan: Manusia Bisa Hilang Dua Kali

Ada satu lapisan pemikiran yang paling membekas bagi saya setelah menonton film ini.

Seseorang bisa hilang karena diculik, dibungkam, atau dihilangkan secara paksa. Tetapi ada kemungkinan yang jauh lebih menyedihkan: dia bisa hilang untuk kedua kalinya ketika masyarakat berhenti mengingatnya.

Pertama, dia hilang dari kehidupan.

Kedua, dia hilang dari ingatan.

Bayangkan, seseorang pernah berjuang, pernah mengalami penderitaan, bahkan mungkin kehilangan nyawanya demi sesuatu yang diyakini penting. Namun, beberapa generasi setelahnya tidak lagi mengetahui siapa dia, apa yang pernah terjadi, dan mengapa perjuangannya harus dikenang.

Sejarah akhirnya hanya menjadi catatan di buku pelajaran. Nama-nama hanya menjadi hafalan. Peristiwa hanya menjadi bahan ujian.

Padahal, ada manusia dan penderitaan di balik semua itu.

Saya jadi berpikir, sebuah bangsa tidak hanya bisa kehilangan orang-orangnya, tetapi juga bisa kehilangan ingatannya. Dan bangsa yang kehilangan ingatan akan kesulitan belajar dari kesalahan masa lalunya.

Jangan-Jangan, Kita Sedang Mewarisi Informasi Tanpa Mewarisi Kesadaran Sejarah

Kalau kita tarik ke kehidupan Indonesia hari ini, rasanya ada banyak hal yang bisa direnungkan.

Kita hidup di zaman yang sangat berbeda. Kita bisa berbicara melalui media sosial, menyampaikan pendapat, mengkritik kebijakan, berdiskusi, dan mengakses informasi dengan jauh lebih mudah.

Reformasi 1998 telah membawa perubahan besar bagi kehidupan demokrasi kita. Tetapi apakah perubahan zaman otomatis membuat kita lebih dewasa dalam berdemokrasi? Saya kira belum tentu.

Hari ini, informasi datang begitu cepat. Sebuah persoalan bisa menjadi viral, ramai diperbincangkan selama beberapa hari, lalu tenggelam oleh isu baru.

Kita sering lebih sibuk memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa pendukung siapa, siapa kelompoknya, daripada memahami persoalan yang sebenarnya.

Kadang, kita lebih tertarik membela tokoh daripada membela prinsip.

Kita bisa sangat keras mengkritik ketidakadilan ketika dilakukan oleh pihak yang tidak kita sukai. Tetapi tiba-tiba menjadi sangat toleran ketika hal yang sama dilakukan oleh pihak yang kita dukung.

Padahal, keadilan seharusnya tidak bergantung pada siapa pelakunya.

Kalau sebuah tindakan salah, ya tetap salah. Tidak menjadi benar hanya karena dilakukan oleh orang yang kita sukai atau kelompok yang kita bela.

Menurut saya, ini salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan sosial dan politik kita hari ini. Jangan sampai loyalitas kepada kelompok membuat kita kehilangan keberanian untuk berpikir jernih dan bersikap adil.

Demokrasi Bukan Hanya Tentang Kebebasan Berbicara

Kita sering merasa bahwa demokrasi sudah berjalan karena setiap orang bisa berbicara, mengkritik, atau menyampaikan pendapat.

Tetapi demokrasi sebenarnya lebih dari itu.

Demokrasi membutuhkan ruang yang aman bagi perbedaan pendapat. Membutuhkan keberanian untuk menerima kritik. Membutuhkan hukum yang berlaku adil. Dan yang tidak kalah penting, membutuhkan kekuasaan yang bersedia diawasi.

Sebab kebebasan berbicara akan kehilangan maknanya jika orang yang menyampaikan kritik justru diperlakukan sebagai musuh.

Tentu saja, Indonesia hari ini tidak bisa begitu saja disamakan dengan Indonesia pada masa Orde Baru. Ada perbedaan situasi, sistem, dan ruang kebebasan yang harus kita pahami secara proporsional.

Namun, pengalaman masa lalu seharusnya membuat kita lebih peka terhadap setiap gejala yang berpotensi menggerus kebebasan dan kemanusiaan.

Jangan menunggu semuanya menjadi buruk untuk mulai peduli. Jangan menunggu ada korban baru untuk mulai mempertanyakan keadilan. Dan jangan menunggu sejarah terulang untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang seharusnya kita jaga sejak awal.

Kalau Biru Laut Hidup Hari Ini, Apakah Kita Akan Mendengarkannya?

Saya sempat membayangkan satu hal.

Jika Biru Laut hidup di zaman sekarang, mungkin dia tidak perlu lagi menyebarkan buku secara sembunyi-sembunyi. Dia bisa menulis di media sosial, membuat video, berdiskusi di ruang publik, atau menyampaikan kritik melalui berbagai platform digital.

Tetapi pertanyaannya bukan sekadar apakah dia bisa berbicara.

Apakah kita mau mendengarkannya?

Atau justru kita lebih sibuk mencari tahu siapa kelompoknya, siapa yang mendukungnya, apa kepentingannya, dan mengapa dia berani mengkritik?

Jangan-jangan, kita sudah memberikan kebebasan kepada seseorang untuk berbicara, tetapi belum tentu memberikan ruang kepadanya untuk didengar.

Seseorang tidak selalu harus dibungkam dengan cara menghilangkan keberadaannya. Terkadang cukup dengan memberi label buruk, mendiskreditkan, mengucilkan, atau membuat suaranya dianggap tidak penting.

Tentu saja, tidak semua kritik otomatis benar. Setiap pendapat tetap perlu diuji dengan fakta dan akal sehat. Tetapi jangan sampai perbedaan pendapat menjadi alasan untuk merampas hak seseorang untuk didengar.

Kita perlu belajar membedakan antara mengkritik gagasan dan membenci orang yang menyampaikannya.

Kita Punya Tanggung Jawab untuk Tidak Melupakan

Pada akhirnya, saya merasa Laut Bercerita bukan hanya mengajak kita mengenang sebuah masa kelam dalam sejarah Indonesia.

Lebih dari itu, film ini mengajak kita bertanya: bangsa seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?

Apakah bangsa yang hanya pandai merayakan kemenangan, tetapi enggan membicarakan luka?

Apakah bangsa yang hanya mengingat tokoh-tokoh besar, tetapi melupakan orang-orang kecil yang pernah memperjuangkan perubahan?

Atau bangsa yang berani melihat sejarah secara jujur, belajar dari kesalahan, dan memastikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi pegangan bersama?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita harus terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Justru sebaliknya. Kita perlu memahami masa lalu agar bisa melangkah ke masa depan dengan lebih baik.

Kita boleh berbeda pilihan politik. Boleh berbeda pandangan. Boleh mendukung siapa pun yang menurut kita layak memimpin.

Tetapi ada nilai-nilai yang seharusnya tidak boleh berubah: keadilan, kemanusiaan, kebebasan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Jangan sampai kita begitu sibuk memperjuangkan siapa yang berkuasa, sampai lupa untuk apa kekuasaan itu seharusnya digunakan.

Jangan sampai kita begitu sibuk membela kelompok, sampai lupa membela kebenaran.

Dan jangan sampai kita begitu mudah melupakan orang-orang yang pernah memperjuangkan sesuatu yang hari ini bisa kita nikmati.

Sebuah Bangsa Jangan Sampai Kehilangan Ingatannya

Setelah menonton Laut Bercerita, saya semakin percaya bahwa sejarah bukan hanya urusan masa lalu.

Sejarah adalah bagian dari tanggung jawab kita hari ini.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mengenang perjuangan para pendahulunya, tetapi juga bangsa yang berani menjaga nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan.

Mungkin kita tidak hidup di zaman Biru Laut. Mungkin kita tidak mengalami langsung apa yang dialami mereka.

Tetapi kita hidup di zaman yang tetap membutuhkan keberanian untuk berpikir, bersuara, mengingat, dan peduli.

Sebab membungkam seseorang tidak selalu harus membuatnya menghilang. Terkadang cukup dengan membuat suaranya tidak lagi dianggap penting.

Dan melupakan bukan selalu berarti tidak tahu. Terkadang seseorang tahu, tetapi memilih untuk tidak peduli.

Jangan biarkan orang-orang yang pernah memperjuangkan kemanusiaan hilang untuk kedua kalinya: pertama dari kehidupan, lalu dari ingatan kita.

Sebab yang paling mengkhawatirkan bukan hanya ketika sebuah bangsa pernah mengalami masa kelam, melainkan ketika bangsa itu mulai kehilangan ingatan tentang mengapa masa kelam tersebut tidak boleh terulang.

Brian Kamoed